Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 Juni 2011

Gizi untuk para remaja


by
Fauzi 'Arasj

Kecukupan asupan gizi  untuk para remaja merupakan salah satu langkah penting dalam mempersiapkan generasi berikutnya yang lebih baik, dimana mereka telah mulai siap untuk melaksanakan periode penting dalam sistem kehidupan yaitu ber-reproduksi, akan lain hasilnya jika pada masa persiapan ini, asupan gizi remaja tidak mencukupi, kemungkinan untuk mendpatkan hasil reproduksi yang tidak optimal, besar kemungkinan akan terjadi. Masa remaja  merupakan saat terjadinya perubahan-perubahan cepat dalam proses pertumbuhan fisik, kognitif dan psikososial. Pada masa ini terjadi kematangan seksual dan tercapainya bentuk dewasa karena pematangan fungsi endokrin. Pada saat proses pematangan fisik, juga terjadi perubahan komposisi tubuh (http://www.lusa.web.id).

Periode Adolesensia ditandai dengan pertumbuhan yang cepat (Growth Spurt) baik tinggi badannya maupun berat badannya. Pada periode growth spurt, kebutuhan zat gizi tinggi karena berhubungan dengan besarnya tubuh. Growth Spurt :  Anak perempuan : antara 10 dan 12 tahun.  Anak laki-laki : umur 12 sampai 14 tahun. Permulaan growth spurt pada anak tidak selalu pada umur yang sama melainkan tergantung individualnya. Pertumbuhan yang cepat biasanya diiringi oleh pertumbuhan aktivitas fisik sehingga kebutuhan zat gizi akan naik pula.

GROWTH SPURT

Tanda yang spesifik pada saat terjadinya pertumbuhan fisik remaja baik pada laki-laki dan perempuan adalah kecepatan tumbuhnya (growth spurt). Pada saat ini pertumbuhan tinggi badan (linier) terjadi sangat cepat. Laju pertumbuhan anak, wanita, dan pria hampir sama cepatnya pada usia 9 tahun. Antara 10-12 tahun, pertumbuhan anak perempuan mengalami percepatan lebih dahulu untuk persiapan menjelang usia reproduksi. Puncak pertambahan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) wanita tercapai pada usia 12,9 dan 12,1 tahun, dan  9 sampai 12 bulan setelah itu akan terjadi menarche. Puncak pertambahan BB dan TB pada pria yaitu pada usia 14,3 dan 14,1 tahun. Pendewasaan fisik remaja di negara maju berhenti pada usia 17 tahun, sedangkan pendewasaan fisik remaja di negara berkembang baru terselesaikan pada usia 19 tahun.

Di negara maju/ masyarakat yang berkecukupan, perbaikan status gizi mendewasakan fisik anak laki-laki dan wanita lebih dini. Pada kelompok ini rata- rata usia menarche sampai pada titik 12,8 tahun. Penyelidikan membuktikan bahwa apabila manusia sudah mencapai usia lebih dari 20 tahun, maka pertumbuhan tubuhnya sama sekali sudah terhenti. Ini berarti, makanan tidak lagi berfungsi untuk pertumbuhan tubuh, tetapi lebih kearah untuk mempertahankan keadaan gizi yang sudah didapat atau membuat gizinya menjadi lebih baik. Artinya, kebutuhan akan unsur unsur gizi dalam masa dewasa sudah agak konstan, kecuali jika terjadikelainan-kelainan pada tubuhnya, seperti sakit dan sebagainya, sehingga mengharuskan remaja untuk mendapatkan kebutuhan zat gizi yang lebih dari biasanya

Kudapan atau snack merupakan makanan yang paling disenangi oleh remaja, kudapan akan memberikan kontribusi penambahan asupan energi pada kelompok remaja sampai  30 % atau lebih dari total asupan kalori setiap hari. Padahal kudapan ini sering mengandung tinggi lemak, gula dan natrium dan dapat meningkatkan resiko kegemukan dan karies gigi. Oleh karena itu, remaja harus didorong untuk lebih memilih kudapan yang sehat.  Bagi remaja, makanan merupakan suatu kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya.  Kekurangan konsumsi makanan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, akan menyebabkan metabolisme tubuhterganggu,  Oleh karena itu, remaja harus didorong untuk lebih memilih kudapan yang sehat.  Bagi remaja, makanan merupakan suatu kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan perkembangan  tubuhnya. Kekurangan konsumsi makanan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, akan menyebabkan metabolisme tubuhterganggu. Kecukupan gizi merupakan kesesuaian baik dalam hal kualitas maupun kuantitas zat-zat gizisesuai dengan kebutuhan faali tubuh. 

Beberapa masalah yang dihadapi remaja antara lain:
1.      Anemia Defisiensi Gizi:
Survey yang dilakukan di negara berkembang menunjukkan bahwa lebih dari seperempat remaja putra (27%) atau putri (26%) menderita anemia. Surveyyang dilakukan dikalangan mahasiswi kedokteran di Prancis menunjukkan 16% mahasiswa kehabisan cadangan besi, 75% lainnya menderita kekurangan zat besi. Penelitian yang dilakukan juga terhadap masyarakat  Miskin di Kairo menunjukkan bahwa sebagian besar asupan besi para remaja wanita tidak mencukupi kebutuhan harian yang dianjurkan, hal sama juga terjadi di Indonesia.
2.      Kebiasaan makan yang salah:
Kebiasaan remaja untuk mengkonsumsi makanan olahan/ cepat saji  dalam jumlah yang berlebihan, karena adanya sebuah paradigma yang beredar dikalangan remaja, jika belum mengkonsumsi makanan cepat saji belumlah bisa dikatakan remaja yang mumpuni, padahal makanan cepat saji atau junk food tersebut  sangat sedikit mengandung kalsium, zat besi, asam folat, vitamin A dan vitamin C. Sementara kandungan lemak jenuh, kolesterol dan natriumnya sangat tinggi. Sarapan pagi penting, hal ini diyakini oleh 9 dari 10 remaja namun hanya 60% diantara mereka yang melakukan sarapan pagi secara teratur, padahal sarapan pagi bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan untuk beraktifitas dipagi hari.
3.      Anoresia Nervosa:
Menurunkan berat badan dengan cara tidak makan, yang disebabkan karena berkeinginan untuk menyamai idolanya atau imagenya tentang kondisi tubuh tertentu. Gambaran khasnya ialah kehilangan nafsu makan yang berat dan parah. Anoreksia terkait dengan penurunan berat badan secara salah sehingga akan dapat terjadi gangguan ovarium. Para ahli mengkategorikan kondisi ini sebagai  masalah kejiwaan
4.      Bulemia Norvosa:
Bulimia nervosa merupakan kondisi yangterjadi pada remaja dengan tujuan menjaga berat badan yang ideal atau imagenya untuk meniru sang idola, sementara nafsu makannya tidak berkurang, jalan keluarnya adalah dengan cara memuntahkan makanan segera setelah mereka selesai makan

Perubahan Fisik Pada Remaja
•      Pada Remaja Laki-laki :
–     Tubuh bertambah berat dan tinggi
–     Tumbuh rambut-rambut halus di daerah penis, kaki, tangan, dada, ketiak, wajah
–     Keringat bertambah banyak
–     Kulit dan rambut mulai berminyak
–     Pundak dan dada bertambah besar dan bidang
–     Tumbuh jakun
–     Suara berubah menjadi berat
–     Penis dan buah zakar membesar
–     Mimpi basah
–     Reproduksi
•      Pada remaja perempuan :
–     Tubuh bertambah berat dan tinggi
–     Tumbuh rambut-rambut halus di daerah pubis dan ketiak
–     Payudara membesar
–     Pinggul melebar
–     Kulit dan rambut mulai berminyak
–     Pantat berkembang lebih besar
–     Indung telur mulai membesar
–     Vagina mulai mengeluarkan cairan
–     Menstruasi
–     Reproduksi

Recommended Dietary Allowance (RDA)

RDA adalah Angka Kecukupan Gizi  yang Dianjurkan. Tiap tiap negara mempunyai angka RDA sendiri. Amerika menganjurkan kelompok  remaja laki-laki umur 15 – 18 tahun untuk mengkonsumsi energi sebesar 3000 Kkal dan 59 gram protein, sedangkan untuk remaja perempuan umur 15-18 tahun dianjurkan asupan energinya sebesar 2200 Kkal dan 44 gram protein perharinya. http://www.time-to-run.com/nutrition/rda. sedangkan negara UK menganjurkan asupan energi untuk remaja putra usia 14 – 18 tahun antara 2200 – 2400 Kkal dan  52 gram protein sedangkan untuk remaja putri dianjurkan asupan energinya sebesar 2000 Kkal dan 46 gram protein https://www.purelifestyle.co.uk/Article.aspx?Id=37. Sementara Indonesia mengajurkan asupan energi untuk remaja putra sebesar 2600 Kkal dan 65  gram protein sedangkan untuk remaja putri sebesar 2200 Kkal dan 50 gram protein (AKG, Wydia Karya Nasional Pangan dan Gizi, 2004).

Pada remaja perempuan 10-12 tahun kebutuham energinya 50-60 kal/kg BB/ hari dan usia 13-18 tahun sebesar 40-50 kal/ kg BB/ hari.

Kebutuhan protein meningkat karena proses tumbuh kembang berlangsung cepat. Apabila asupan energi terbatasataukurang, protein akan dipergunakan sebagai energi. Kebutuhan protein usia 10-12 tahun adalah 50 g/ hari, 13-15 tahun sebesar 57 g/ hari dan usia 16-18 tahun adalah 55 g/ hari.  Sumber protein terdapat dalam daging, jeroan, ikan, keju, kerang dan udang (hewani). Sedangkan protein nabati pada kacang-kacangan, tempe dan tahu.

Lemak dapat diperoleh dari daging berlemak, jerohan dan sebagainya. Kelebihan lemak akan disimpan oleh tubuh sebagai lemak tubuh yang sewaktu- waktu diperlukan. Departemen Kesehatan RI menganjurkan konsumsi lemak dibatasi tidak melebihi 25 % dari total energi per hari, atau paling banyak 3 sendok makan minyak goreng untuk memasak makanan sehari. Asupan lemak yang terlalu rendah juga mengakibatkan energi yang dikonsumsi tidak mencukupi, karena 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori. Pembatasan lemak hewani dapat mengakibatkan asupan Fe dan Zn juga rendah.

Kebutuhan vitamin dan mineral pada saat ini juga meningkat. Golongan vitamin B yaitu vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin) maupun niasin diperlukan dalam metabolisme energi. Zat gizi yang berperan dalam metabolisme asam nukleat yaitu asam folat danvitamin B12. Vitamin D diperlukan dalam pertumbuhan kerangka tubuh/ tulang. Selain itu, agar sel dan jaringan baru terpelihara dengan baik, maka kebutuhan vitamin A, C dan E juga diperlukan.

Kekurangan Fe/ zat besi dalam makanan sehari-hari dapat menimbulkan kekurangan darah yang dikenal dengan anemia gizi besi (AGB). Makanan sumber zat besi adalah sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging. Fe lebih baik dikonsumsi bersama dengan vitamin C, karena akan lebih mudah terabsorsi.

Pengaruh Status Gizi Pada Sistem Reproduksi

Kebutuhan energi dan nutrisi dipengaruhi oleh usia reproduksi, tingkat aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang diperlukan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan. Kekurangan nutrisi pada seorang ibu hamil yang mengalami anemia dan kurang berat badan lebih banyak akan melahirkan bayi BBLR (berat badan lahir rendah) dibandingkan dengan wanita dengan usia reproduksi yang aman untuk hamil.

Mentawai, ist a dream island part three


Damainya  desa SALIGUMA

Sesuai dengan skedul yang telah dibuat semenjak di padang, maka pada hari kedua kami berada di muara siberut, tim dijadwal akan menuju kecamatan siberut tengah, tepatnya desa saliguma dan saibi, keduanya adalah desa desa di siberut tengah. Untuk transport ke desa saliguma, kami menggunakan bot puskesmas dengan 2 mesin @ 40 PK, pimpinan puskesmas siberut selatan ( dr dodi) telah memberikan pinjaman bot beserta operatornya dan operatorlah yang mengurus keperluan bahan bakar untuk PP ke saliguma dan saibi sesuai kebutuhan. Jam 7 pagi hari sabtu, kondisi muara siberut tidak terlalu bersahabat, sejak subuh sudah turun hujan walau tidak lebat, namun karena sudah on schedule, kami tetap harus berangkat ke saliguma (sebetulnya keberangkatan kami ditentukan oleh kesanggupan operator bot untuk mengantar kami dalam cuaca seperti itu). Setelah tim sarapan pagi, maka kami siap naik bot yang telah disiapkan dari sebuah dermaga kayu yang berada dibelakang kedai kedai yang ada dimuara siberut. Kami harus membawa sendiri bekal makanan kami siang nanti yang telah dipesan sehari sebelumnya, dan dengan rombongan sebanyak 16 orang, kami pun berangkat ke saliguma ditengah gelombang yang mulai meninggi. Ada sedikit kesulitan ketika kami akan naik bot, karena terguncang guncang dipermainkan ombak yang cukup besar, walau akhirnya kami semua bisa naik ke atas bot yang mempunyai tutup, sehingga tidak akan terkena cipratan air laut kalau sudah ditengah laut nanti dan speed bot berjalan dengan power maksimal 80 PK. Kami bisa keluar dari muara siberut, yang terkenal kejam karena berbenturannya air dari muara dengan dorongan gelombang dari arah laut, belum lagi dengan adanya beberapa gosong berada di depan muara siberut.
Baru saja kami keluar dari muara siberut, bot kayu sabatang kami mulai dipermainkan gelombang laut, aku yang tadinya didermaga telah mengambil tempat duduk dibelakang sekali, entah kenapa kemudian pindah ke bagian depan bot, duduk disebuah kayu melintang dibagian depan bot, menghadap kebelakang, tujuannya sederhana, untuk menghindari mabuk laut, namun hal ini justru jadi petaka.  Gelombang yang besar membuat bot kami seperti menabrak batu, aku yang duduk didepan harus berkali kali dilambungkan keatas dan terhempas turun lagi ke tempat duduk yang keras, sakit sekali rasanya dudukan ku saat itu dan beberapa kali sangat berbahaya karena ketika melambung pegangan ku hampir terlepas, kalau terlepas ada kemungkina nterlempar kedalam laut. Setelah ½ jam kemudian pada situasi seperti itu, aku merangkak masuk kedalam tenda kayu yang dipasang diatas bot, amaaannn, alhamdulillah, terlepas dari hempasan ombak, dan begitu aku masuk kedalam, operator spontan menambah kecepatan bot sehingga bot makin gagah membelah gelombang laut yang menggila, bot kayu sebatang diarahkan ke utara pulau siberut dengan jarak kepantai sekitar 1-2 km, dan beberapa ekor lumba lumba muncul disisi bot kami, berlompatan berpasang-pasangan beberapa saat dan kemudian menghilang.
Setelah lebih dari 1 jam dihempas hempaskan gelombang laut, kami memasuki wilayah yang berair datar, karena gelombang laut sudah ditahan oleh hutan bakau didepannya, dan tak berapa lama kamudian kami mendarat disebuah dermaga kayu desa saliguma yang berair sangat tenang, disamping sebuah bekas bungalow. Ada sedikit geraran terasa  didada ketika mulai kaki ini menginjak tanah desa saliguma, pada awalnya hanya ada beberapa rumah saja yang terlihat, sangat sederhana namun penuh ketenangan dan kedamaian, dan disana sudah ada jalan beton yang mengarah ke tengah pulau selebar 1-2 meter. Mulailah kami kontak pertama dengan penduduk, yang berada dirumah khas orang mentawai, rumah yang terbuat dari kayu, sederhana sekali, dimana bagian depannya dibuat untuk istirahat dengan dikelilingi oleh bangku kayu dan bagian dalamnya untuk keperluan lain. Ahh, beginikah kehidupan saudaraku di mentawai ini..??? begitu sederhana, dan kami pun terus beriringan berjalan menapaki jalan beton menuju ke tengah perkampungan, dan makin lama makin banyak ketemu rumah dan ketika sampai disebuah SD, yang saat itu murid muridnya sedang istirahat, kami dikerumunin mereka, kami ingin berkomunikasi namun tidak bisa, karena mereka menggunakan bahasa daerah, walau akhirnya ku coba berkomunikasi dengan anak yang lebih besar, ternyata mereka dapat berbahasa indonesia, dan mereka sudah kelas 5 dan kelas 6 (menurut informasi pak camat, saliguma merupakan desa tertinggi jumlah kelahiran anaknya di antara beberapa desa yang ada di seluruh siberut tengah). Kami pun terus berjalan melewati beberapa rumah lagi dan bertemu dengan pak camat siberut tengah, yang sudah menunggu kedatangan kami disini sejak kemarin sore, kami diajak ke kantor desa yang masuk lagi kedalam sekitar 2-300 meter dari situ. Kami sudah ditunggu oleh perangkat desa lainnya. Aku mencoba menikmati suasana desa saliguma ini, hanya ada beberapa buah motor terlihat disini, tidak ada sepeda terlihat, tidak ada listrik (listrik menggunakan tenaga surya dan disel pribadi), namun ada parabola, telepon satelit, dan ada beberapa perahu bermotor yang parkir di pinggir pantai, aku baru tahu kalau bot kami ndak diparkir disini, sebab kalau air pasang surut, maka bot tidak bisa keluar dan kalau itu terjadi maka kami harus menunggu air pasang naik lagi untuk bisa keluar. Pak zul, saat itu memutuskan untuk mengumpulkan data di saliguma saja, tidak jadi ke saibi, karena saliguma lebih tradisional daripada saibi dan penduduknya banyak tersebar di 6 dusun.
Setelah tim berdialog dengan pak camat, kades dan sekdes, maka tim dibagi 3, untuk menuju 3 dari 6 dusun yang ada di desa saliguma. Pak zul dan syahrial telah berangkat ke dusun terujung. Kemudian aku bersama ad dan eri, operator bot kami, berjalan menyelusuri jalan tanah yang membelah desa, ternyata, susunan rumah disini sudah ditata sedemikian rupa, ada blok blok dibuat, dan antar blok ada jalan penghubungnya mengelilingi desa, dan bentuk rumahnya hampir semuanya sama. Kami beristirahat disebuah rumah penduduk dimana dilakukan wawancara oleh tim, yang ternyata bisa berbahasa minang (karena pernah di padang), tim kemudian diantar oleh ibu ini berkeliling untuk wawancara dengan penduduk lain yang tidak bisa berbahasa indonesia atau minang. Aku mendapat informasi, bahwa desa lagi sepi karena sebagian besar penduduk sedang ke ladang, dan baru pulang setelah beberapa hari disana. Desa saliguma tidak punya listrik PLN, mereka punya listrik tenaga surya, beberapa rumah memiliki pembangkit listrik tenaga surya ini, sedang yang lain menggunakan disel kapasitas kecil. Aku meneruskan perjalanan sendirian, menelusuri jalan desa, dan akhirnya bertemu dengan tim yang lagi melakukan wawancara dan aku bergabung dengan mereka, ternyata yang diwawancarai juga bisa berbahasa minang, lumayan, dan ketika masuk kesebuah rumah sangat sederhana, khas mentawai namun dari asesori yang tergantung didinding mencirikan bahwa penghuninya beragama islam, kami temukan, ibu dengan 3 anak yang semuanya masih balita yang sedang ditemani suaminya (akhirnya diketahui beliau adalah guru agama di SD yang ada di desa ini) , aku menemani suaminya ngobrol sementara tim mewawancarai istrinya, yang setiap menjawab selalu memandang kepada suaminya terlebih dahulu, namun mereka sangat ramah.   Dari beberapa rumah yang dimasuki tim, beberapa diantaranya terpajang foto pada saat pelaksanaan wisuda anak atau keluarganya di pergutuan tinggi…alaaahhhh maaakkkk. Ternyata penduduk di saliguma sudah banyak yang menyelesaikan pendidikannya di PT.
Fenomena lain yang terlihat adalah, banyaknya anak anak usia balita didesa ini, dari sebuah rumah terlihat sejumlah anak anak bermain main didalam rumahnya yang notabene tidak berdinding, entah kemana orang tuanya, ada 5 – 7 orang mereka, dirumah lain ada beberapa anak lagi yang bermain main tanpa ditemani orang tua mereka, kemana orang tua mereka ya..apakah juga ke ladang…????.... dan ketika bertemu dengan beberapa orang dewasa yang sedang berjalan, kami bertegur sapa, dan mereka menanyakan tujuan kami datang ke saliguma, dan katika kami jawab bahwa ada survey KB, spontan mereka bilang, “ ……tolong yang diberi KB itu bapak bapaknya lagi….jangan ke ibu ibu juga, sudah capek kami dibuatnya….” Kami sama sama tertawa saja mendengar permintaan ini, dan ternyata permintaan ini pun kami dengar pula ketika dilakukan FGD di puskesmas Muara siberut dengan beberapa kader kesehatan/KB yang diundang dari 3 desa yang ada di muara siberut.
Tiba tiba cuaca yang cerah tadi, berubah agak gelap yang datang dengan cepat, sedikit kekhawatiran muncul dibenakku, akankah kami bisa keluar dari desa saliguma…?? Dan jam 14 dengan seizin dr zul, aku mengingatkan tim untuk segera kembali ke muara siberut. Semua tim ku kumpulkan, ternyata tim ter ujung belum balik, mereka diantar oleh pak camat sendiri, dan kemudian diminta pak sekdes dan temannya untuk menyusul tim yang di dusun terujung, sementara kami mulai bergerak ke pantai dimana bot kami berada, dan tak lama kemudian tim ujung sudah sampai ke tempat rombongan dan setelah berbasa basi dengan pak camat yang sepontan mengatakan maaf karena tidak menyediakan makanan, kami menuju kembali ke pantai dan kemudian naik bot kembali, dan ternyata bot kami sudah berada jauh dibawah dermaga karena air sedang pasang surut, sehingga beberapa orang jadi sulit untuk naik ke atas bot, dan tak lama kemudian, bot kami sudah meluncur kencang membelah permukaan air laut yang sangat tenang sore itu meninggalkan desa saliguma dibelakang, aku mencoba berdiri dekat operator bot, memandang kedepan ke titik tujuan awal..desa muara siberut, nun jauhh dibalik kabut, dan labih kurang 1 jam kemudian kami menepi di pantai pasir putih simalepet, makan siang….dan setelah beristirahat sejenak, karena awan hitam sudah muncul lagi, kami pun kembali naik bot, menderu kembali memecah gelombang laut menuju muara siberut. Begitu memasuki muara siberut, kami melihat satu keluarga sedang berdiri di tengah gosong yang ada didepan muara siberut terdiri dari bapak, ibu dan dua anak mereka yang terlihat kedinginan, dan ketika ditegur sama operator bit kami,  ternyata perahu mereka baru saja terguling, operator bot kami mengarahkan ujung prahu ke gosong, beberapa anggota tim laki laki turun dan membantu ibu dan anak tersebut naik ke bot kami, sedangkan sibapaknya mengulurkan tali ke operator dan kemudian menarik perahu tersebut ke dermaga muara siberut. Alhamdulillah, selamat kembali ke daratan dan ketika kami lewat didepan kedai pakaian, mereka bilang..bahwa mereka pikir kami akan menemui halangan di laut mengingat badai yang ada tadi pagi…subhanallah.

Mentawai, ist a dream island part two


Nyanian Muara Siberut

Jam 04.30 pagi aktifitas di mesjid muara siberut sudah mulai terdengar, suara pengajian yang terdengar lantang dari speaker mesjid yang ada sebanyak 4 buah, mengarah ke 4 arah mataangin, dan tak lama kemudian suara adzan subuhpun sudah bergema dari mesjid membangunkan ummat islam untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah di mesjid dan satu persatu warga muara mulai bermunculan dari kediamannya untuk menunaikan sholat subuh di mesjid. Semua aktifitas ini dapat dilihat di lantai dua losmen yang kami tempati bersama tim di muara siberut. Setelah sholat, aktifitas lain mulai berjalan, beberapa orang mulai melakukan olah raga jalan kaki keliling muara siberut, namun ada juga yang marathon..

Pemukiman di Muara siberut, sepertinya sudah tertata dengan adanya lorong lorong yang saling terhubung dengan jalan 2-4 meter, terbuat dari beton semen, menghindari tergalinya jalan oleh kepiting. Umumnya penduduk beragama islam ysng berasal dari tepi (sumbar), namun sebagian beragama nasrani (berasal dari berbagai daerfah di sumatera), dan mereka hidup dengan damai keduanya. Penduduk asli sebagian masih menganut agama asli, namun sebagian sudah menganut agama islam dan nasrani.

Menjelang jam 06 pagi aktifitas harian mulai terlihat, ada yang menyapu halaman rumahnya dan sekaligus membakar sampahnya, ada yang sekedar jalan jalan saja, dan satu satu pedagang sayur dan ikan akan bermunculan di lorong lorong jalan muara denan mendorong gerobak yang berisi dagangan mereka, mereka akan berteriak untuk menjajakan dagangannya dari lorong ke lorong muara siberut. Pedagang sayur yang lewat umumnya adalah ibu ibu mentawai asli, terlihat dari ke khasan wajah dan asessori yang mereka pakai, yang menandakan mereka dari suku mentawai, ditambah lagi dengan bahasa yang mereka gunakan bahasa mentawai, jadi dibutuhkan orang ketiga kalau mau membeli sayuran, buah buahan dari mereka, misalnya, sesisir pisang raja isi 15 buah yang di bawa oleh seorang ibu mentawai di atas gerobaknya, hanya ditawarkan Rp 2500. Padagang lain juga mulai bermunculan, ada pedagang ikan, yang meneriakkan dagangan mereka, pedagang makanan kecil juga mulai bermunculan yang umumnya mereka adalah orang tepi (berasal dari pulau sumatera), 1 jerat ikan umumnya ditawarkan Rp 20 – 30.000 perikat berisikan 3-10 ekor ikan.  

Menjelang jam 07 pagi, didalam udara muara siberut yang masih terasa dingin, anak sekolah mulai bermunculan, mulai dari anak SD sampai ke SLTA akan memenuhi jalan, umumya mereka berjalan kaki, ada yang aneh, anak SLTP lebih tinggi dari anak SLTA, kenapa..??

Dari jauh terdengar kicau anak anak SD yang bemain dengan riangnya,  terdengar di lantai 2 losmen dimana kami berada, sebagian dari mereka terlihat main kejar kejaran, ada juga yang hanya duduk duduk di tangan tangan jembatan sekolah mereka, hampir semua mereka membawa papan jalan, ternyata hari ini ada ujian kenaikan kelas. lagi lagi terlihat, betapa tinggi tingginya anak SD tersebut, walau sebagian diantaranya ada yang pendek juga. Lagi lagi timbul pertanyaan….Kenapa..??

Pemilik toko mulai membuka tokonya masing masing, ada toko pakaian, ada kelontong, ada pecah belah, elektronik, obat obatan, jasa penyewaan boat, pariwisata, tukang jahit, pedagang makanan, warung nasi dll  dan beraktifitas menyiapkan dagangan masing masing. Kendaraan roda dua mulai terdengar hilir mudik dengan suara kenalpot yang keras. Termasuk suara becak yang mulai hilir mudik, melaksanakan kegiatan sehari hari, dan satu satu kendaraan roda 4 juga mulai bermunculan, kendaraan berplat merah atau kendaraan plat hitam yang hanya beberapa buah, juga mulai melaksanakan aktifitasnya, dan semuanya rutin..bergulir secara lambat.
PLN mati jam 13.00 siang dan hidup kembali jam 17.00, entah kenapa demikian,

Umumnya siang hari tidak banyak aktifitas yang dilakukan, toko yang buka hampir tidak ada pengunjung, dan kalaupun ada hanya satu dua orang yang membeli, sehingga ada pameo diantara pedagang yang ada..ndak pacah talua hari ko..artinya tidak ada transaksi hari ini. Namun sehabis ashar, kehidupan lain mulai menggeliat lagi sampai menjelang magrib. Malam hari siberut selatan seperti kota mati…tidak banyak aktifitas, satu dua kendaraan motor masih lalu lalang, demikian juga di pusat siberut lama atau muara siberut, tidak banyak aktifitas kalau malam hari, walaupun demikian beberapa rumah makan atau café masih tetap buka, dan kami sempat nyari makan malam hari sekitar jam 21.00 di muara siberut, dan tenryata beberapa rumah makan/café masih buka. Namun kehidupan lain seolah olah berhenti, sepi dan monoton.

Harga harga di muara siberut, umumnya satu setengah kali lipat dibanding harga di tepi (pulau sumatera), contoh sederhana saja adalah bensin, kalau di tepi harganya Rp 4500 perliter kalau di mentawai bisa mencapai Rp 10.000 perliter. Ongkos  ojek juga cukup mahal, rata rata 10 -15.000 perkali jalan. Hal ini disebabkan karena beberapa waktu sebelkumnya terjadi kelangkkan bahan bakar di siberut, sehingga penduduk membeli bahan bakar non subsidi yang mencapai Rp 15.000 perliternya.

Beda muara siberut saat ini dengan beberapa tahun yang lalu adalah makin banyaknya kendaraan roda dua, karena mudah dibawa dari padang semenjak kapal ambu ambu jenis ro-ro masuk ke pelabuhan malepet siberut selatan, akibatnya, penggunanya tidak terkontrol lagi, mulai dari anak SD sampai orang tua, menggunakan kendaraan roda dua, dengan kenalpot bersuara besar, hilir mudik, padahal harga bahan bakar bensin mencapai Rp 10 - 15,000 perliter. Sementara penggunaan BBM terbanyak disedot oleh kapal dan pompong serta speedbot.

Hari kedua di siberut, kami melakukan perjalanan ke siberut tengah di arah utara siberut selatan dengan menggunakan speedbot dengan 2 mesin @ 40 PK, dengan waktu tempuh lk 1 jam, dibutuhka biaya sekitar 1,3 juta rupiah untuk pembelian bahan bakar bensin dan mintah tanah pp, demikian juga ketika menuju tempat wisata mansilok diselatan siberut selatan, dengan waktu tempuh lk 1 jam, dibutuhkan biaya sebesar 1 juta rupiah. Artinya, kemana pun akan pergi di siberut, kebanyakan harus  menggunakan speedbot dengan biaya yang sangat tinggi, hal ini disebabkan bahan bakar yang ada sangat langka sementara penggunanya banyak, akhirnya harga BBM meningkat.

Asiknya naik speedbot di sberut adalah, karena speedbot tersebut dari KAYU SEBATANG artinya, speedbot dengan panjang sekitar 10 meter, terbuat dari sebatang kayu besar bergaris tengah lk 1 meter, yang dilubangi bagian tengahnya sehingga membentuk perahu yang kokoh, kemudian ditambah dengan kayu lain sehingga membentuk perahu, dan semuanya tidak pake cadik. Menurut informasi dari penduduk setempat, kalau speedbot ini diberi cadik, akan cepat patah karena ombak yang angat besar di perairan mentawai,  bentuk kapal yang cocok adalah kayu sebatang ini, dan mereka sangat lincah meliuk liuk di atas gelombang laut yang menggila, yang akan membuat penumpang siap siap kecipratan air laut. Pernah diberikan sppedbot jenis fiber ke beberapa puskesmas, namun speedbot ini tidak terpakai dan dibiarkan tenggelam begitu saja dipelabuhan, karena tidak cocok untuk perairan mentawai, apalagi untuk perairan mentawai barat yang lebih menggila lagi tinggi gelombangnya, dengan bentuk pantai berbatu cadas, yang siap menelan kapal yang terhempas oleh ombak besar, ciri khas ombak di pantai barat mentawai yang sangat ditakuti namun disukai oleh para turis mancanegara. Melakukan perjalanan lewat laut di kepulauan mentawai harus menanggung resiko tinggi, biaya mahal, namun kalau menggunakan jalan darat, harus siap siap jalan kaki dan tidur ditengah hutan kalau kemalaman, atau menggunakan jalan sungai, maka siap siap  untuk menggotong perahu kalau menemukan sungai dangkal, sekarang tinggal pilih, mau menggunakan jalan mana..??

Dan..mantawai telah menjadi tempat lahir ku yang kedua, I Loved Mentawai….

Muara Siberut, awal juni 2011.

Jumat, 17 Juni 2011

Mentawai, its a dream island


Perjalanan kali ini ke pulau mentawai seperti pulang kerumah sendiri, dimulai dengan melakukan perjalanan ke tua pejat, iku kota kabupaten kepulauan mentawai, yang terletak di pulao sipora, salah satu dari beberapa pulau terbesar yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Propinsi Sumatera Barat.
Perjalanan ke tua pejat dilakukan malam hari, sekitar jam delapan malam dengan menggunakan jasa angkutan kapal ASDP ambu ambu sejenis kapa ro-ro, informasi tentang tiket sudah di peroleh beberapa hari sebelumnya, namun tiket baru di ambil saat hari keberangkatan di pelabuhan bungus padang. Mungkin karena hari keberangkatan menuju pulau adalah hari minggu, maka saat ini kapal sangat penuh dengan barang, hingga saat keberangkatan pintu kapal hanya dibuka sebentar, sekedar untuk menaikkan penumpang dan barang yang dimuat ke kapal seperti mobil dan sepeda motor telah mencapai bibir pintu, sehingga tidak memungkinkan untuk menambah kendaraan baru untuk naik lagi, ada pengumuman dari kapal bahwa tidak ada penambahan barang lagi karena kapal sudah penuh. Setelah mendapat tiket kelas dek ( kamar sudah habis dipesan semenjak 2 minggu sebelumnya) seharga Rp 82.500,- Kami (saya dengan dr zul agus) mencoba naik ke kapal lewat pintu samping namun tidak bisa karena jarak antara pinggir kapal dengan tempa berpijak disebelah dalam kapal cukup tinggi, yang berkemungkinan akan berdampak negatif terhadap kaki kalau melompat, akhirnya kami menunggu hingga pintu kapal diturunkan, dengan berdiri di depan pintu kapal roro yang masih tertutup, begitu pintu  diturunkan, kami naik dan langsung ke lantai dua di dek kapal, namun kondisinya telah sangat penuh dan kami naik lagi ke dek atas ke arah luar, dialam terbuka, itupun sudah penuh sekali. Setelah dicoba menghubungi pihak kapal untuk mendapatkan kamar, ternyata tidak bisa karena sudah penuh sejak 2 minggu sebelumnya, dan akhirnya dibentangkan matras di dekat saluran cerobong asap, dan kami berdua duduk dan beristirahat seadanya sambil berdoa mudah mudahan tidak hujan malam ini. Disetiap sudut dan lorong kapal di dek atas ini sudah penuh dengan manusia, termasuk di beberapa buah tempat duduk yang disediakan pihak kapal, semuanya penuh.
Jam setengah sembilan kapal berjalan meninggalkan dermaga bungus Padang dengan  damai dan laut terasa sangat tenang malam ini, namun satu jam kemudian, selepas dari teluk bungus, mulai terasa goncangan yang cukup keras, saya menawarkan pak zul untuk makan namun beliau menolak karena sudah makan sebelum berangkat tadi, maka bekal nasi bungkus yang dibeli di jalan sebelum ke pelabuhan tadi saya makan, sambil ngobrol terus dengan dr zul.  Makin lama guncangan dikapal makin terasa  dan mulai ada yang muntah muntah, dan penumpang yang duduk di tempat duduk yang disediakn tersebut mulai muntah dan dia tak peduli dengan muntahnya sehingga pak zul berinisiatif untuk menutui muntah tersebut dengan koran yang sudah beliau baca dan sisanya kami jadikan sebagai alas tidur penyambung matras yang sudah ada, separuh badan ada diatas matras dan separuh lagi ada di atas koran…dan ternyata bisa tidur ditengah gelombang laut yang makin menggila, namun ada dua orang penumpang lain yang dengan tanpa permisi menggunakan matras dan korang yang sudah diatur tadi, begitu ditegor dia menjawab sambill minta maaf karena sudah pusing, akhirnya kami biarkan dia tidur bersama kami. Sekitar jam 03.30 pak zul sudah bangun terus ke kamar mandi dan tak lama kemudian sudah terdengar azan subuh dari pengeras suara di kapal, pak zul kembali turun ke musholla untuk sholat berjamaah. Saya pergi ke kafe memesan 2 gelas kofee mix dan membawanya ke dek atas, menunggu pak zul selesai sholat, kemudian saya pun turun untuk shubuh.
Sekitar jam 6 pagi kapal merapat di tua pejat dan sudah ditunggu oleh pak timo, anak angkat pak zul yang jadi pejabat di pemda mentawai, kami berjalan ke rumah pak timo yang hanya sekitar 300 meter dari pelabuhan, lantas setelah mandi kami menggunakan sepeda motor pinjaman dari pak timo menuju kantor linmas kab mentawai, untuk mengurus surat izin penelitian. Kami sampai dikantor sospol dan dilayani oleh petugas sospol serta setelah dilakukan beberapa tanya jawab, dan setelah hampir 2 jam kemudian, surat izin penelitian kami ke siberut selatan dan tengah pun sudah ditangan. Kemudian kami meneruskan perjalanan ke kantor P2KB untuk ketemu dengan kabag KB nya, cukup jauh perjalanan dilakukan dan akhirnya kami bertanya tentang letak kantor P2KB, ditunjukkan letaknya oleh seorang PNS yang lagi foto kopi, namun disebuah persimpangan saya berbeda pendapat dengan dr zul, pak zul bilang terus, saya bilang belok…dan akhirnya pak zul yang benar, ternyata jalan yang saya ambil makin lama makin kecil, walau masih jalan beton, terus berganti dengan jalan aspal lepas, dan akhirnya jalan tanah, ada beberapa rumah saja disekitar itu dan ketika bertemu dengans seorang bapak bapak, kami tanya dan benar kami salah, pak zul tertawa melihat kesalahan saya dan kami balik lagi, dan didepan rumah sakit daerah tua pejat, kami belok kiri dan terus dan tak lama kemudian sudah sampai di kantor P2KB, ketemu dengan pak Kiswan. Kami melakukan wawancara dengan pak kiswan, mantan pegawai dinkes yang dipindah ke P2KB. Kami bicara lebih kurang 2 jam dan akhirnya menjelang siang kami kembali ke pelabuhan, namun singgah dulu di warung nasi, makan dan jalan lagi, ke kantornya pak timo, namun beliau ke luar dan kami terus turun ke pelabuhan, ngupi di kedai yang ada dipelabuhan, terus sholat zhuhur dimesjid raya tua pejat. Kemudian kami kembali ke rumah pak timo dan istirahat.
Sebelum maghrib, kami bertiga makan di area pelabuhan, pak zul dan pak timo lahap sekali makan gulai kepala ikan, dan kemudian kami menuju loket tiket dan membeli tiket untuk berangkat malam ini seperti yang telah dipesan tadi pagi. Dan jam 7 malam, kami naik kapal di ruang VIP dan ketika sudah dduduk diruang VIP ketemu dengan mantan sekda kep mentawai pak Ridwan dan pak zul asik sekali ngobrol dengan pak ridwan, seperti dua orang sahabat yang sudah lama tidak ketemu, akhirnya saya dan pak timo menyingkir dan membiarkan beliau berdua ngobrol. Jam 9 malam kapal ambu ambu kembali menuju padang….dan alhamdulillahhhh, cuaca laut sangat tenang, sehingga kami dapat tidur nyenyak sampai pagi di pelabuhan bungus kembali. Sudah dijemput sama iwan dan terus kembali ke rumah, istirahat, untuk kembali menuju siberut mentawai dengan kapal kayu dari pelabuhan muara padang, 2 hari lagi.